Malware

Malware

19 Nopember lalu adalah hari terakhir para jawara antivirus dari berbagai negara yang tergabung dalam AVAR (Association of anti Virus Asia Researchers) berkonferensi di Nusa Dua, Bali.

Eh omong-omong, apa sih AVAR? Ini adalah organisasi independen dan nirlaba yang fokus dengan riset-riset di Asia Pasifik. Pekerjaannya adalah menganalisis serangan terhadap keamanan komputer dan berbagi temuan teknologi untuk pengembangan riset serangan komputer dan internet di masa depan. Anggota AVAR berasal dari Australia, China, Hong Kong, India, Jepang, Korea, Filipina, Singapura, Taiwan, Inggris, dan Amerika Serikat.

Banyak hal menarik dibahas di AVAR 2010 tersebut. David Harley (Senior Research Fellow & Director of Malware Intelligence, Eset) misalnya, mengajukan makalah berjudul “Test Files and Product Evaluation: the Case for and against Malware Simulation.” Di situ dipaparkan pengujian antivirus dan cross checking antara lembaga.

Mengapa ini dianggap penting? Sebab anti malware testing bisa dilakukan oleh siapa saja. Tidak ada satu pun lembaga yang punya otoritas mandat untuk melakukan pengujian. Akibatnya, tidak ada standar baku. Yang ada hanyalah metodologi yang dikenal sebagai dynamic dan static testing.

Belum adanya standar baku pengujian ini sebenarnya merugikan vendor maupun konsumen. Sebab akan muncul discrepancy pada hasil uji. Yang lebih celaka, kondisi tersebut juga menghadirkan lembaga uji yang tidak independen karena didukung vendor antivirus tertentu. Sampel uji misalnya, datang dari vendor yang menjadi sponsor. Ini memunculkan apa yang disebut Red Light Test, yakni hasil produk yang bagus datang dari sponsor dengan pengujian secara selektif tanpa penjelasan metodologi yang dipakai.

David juga menekankan perlunya hubungan kerjasama dalam industri. Ini untuk memudahkan lembaga penguji lain bertukar pengalaman dan pengetahuan sehingga dapat menemukan metodologi alternatif untuk memvalidasi sampel yang ada.

Berkaitan dengan event AVAR tersebut, Yudhi Kukuh, Technical Consultant ESET Indonesia menyampaikan, bahwa ”malware-malware baru bermunculan dengan sangat luar biasa setiap harinya terutama di wilayah Asia Pasifik, disisi lain kesadaran penggunaan anti virus juga semakin meningkat sehingga perlu ada support informasi yang benar berkaitan dengan produk antivirus”.

sumber : Tabloid PCplus